Langsung ke konten utama


 

Menghargai Diriku Sendiri, Susah atau Mudah?

 

Orang berkata, cintailah dirimu sendiri sebelum mencintai orang lain. Hargailah orang lain seperti sebagaimana kau menghargai dirimu sendiri. Hal tersebut ada benarnya. Seseorang harus mencintai diri sendiri dulu. Memperlakukan diri sendiri dengan baik, dengan layak. Bagimana seseorang memperlakukan diri sendiri mencerminkan bagaimana perlakuan dia terhadap orang lain. Hal ini terlihat pada contoh bagaimana seseorang memberikan suatu benda yang disukainya kepada orang lain. Semua orang tahu bahwa memberikan suatu benda yang berharga bagi kita kepada orang lain itu sangat berat dan sulit.

Akan tetapi, adakalanya, mencintai diri sendiri dikatakan sebagai sikap egois. Definisi egois (selfish) menurut KBBI ialah orang yang selalu mementingkan diri sendiri. Erich Pinchas Fromm seorang psikoanalis, menuliskan kata bijaknya bahwa orang egois tidak mampu mencintai orang lain,. Mereka juga tidak mampu mencintai diri mereka sendiri. Lebih lanjut, Erich menjelaskan bahwa sebenarnya mencintai orang lain itu berawal dari kemampuan kita mencintai diri sendiri. Oleh karena itu, cara terbaik dalam seni mencintai orang lain adalah memahami dirimu terlebih dahulu.

Ini seperti kisahku. Aku yang dulunya sama sekali tidak menyayangi dan menghargai diriku sendiri karena satu dan lain hal, gagal untuk menghargai orang lain di sekitarku. Sejak masuk SMA, aku yang sudah tertekan karena masuk jurusan yang sama sekali “bukan aku”; kenapa tidak masuk jurusan yang kamu mau saja? Ya, lagi, karena satu dan lain hal yang tidak bisa aku ceritakan di sini. Aku yang sedari awal sudah tertekan karena pelajaran, dituntut untuk tidak melakukan kesalahan sama sekali saat di sekolah karena ayah dan ibuku adalah guru sekolah tersebut. Mungkin kalian bisa sedikit membayangkan, aku harus belajar pelajaran yang sama sekali tidak aku sukai selama tiga tahun. Aku harus berperilaku baik setiap saat (ini sebenarnya suatu hal yang baik, tapi hal ini membuatku sedikit menjadi orang yang bisa dibilang memiliki muka dua, karena aku tidak sebaik itu). 

Aku mengharuskan diriku untuk tidak melakukan kesalahan sekicil apapun di sekolah agar aku tidak mempermalukan nama baik orang tuaku. Ketertekananku bertambah lagi karena aku yang merupakan anak kelas “unggulan”. Aku harus mendengarkan bisikan dan ocehan teman-teman yang sebenarnya bukan haknya berpikiran seperti itu. Tidak sedikit yang mengatakan bahwa aku bisa masuk SMA ini dan masuk kelas unggulan karena orang tuaku yang mengaturnya. Mereka sama sekali tidak tahu bagaimana kerasnya perjuanganku untuk bisa bertahan di kelas itu agar aku tidak dianggap “gagal” oleh mereka. Hal-hal itu membuatku menjadi orang yang memiliki dua sisi yang berbeda. Aku yang harus bisa sesempurna mungkin di sekolah, tetapi amat sangat rapuh di rumah. Aku menjadi orang yang tertutup dan sulit menerima dan percaya orang lain. Aku yang seperti boneka di sekolah. Aku merasa tidak hidup.

Dua tahun berlalu begitu saja, beruntung aku masih memiliki mereka, mereka yang benar-benar berteman denganku yang membuatku bisa melewati dua tahun SMA-ku. Saat kelas XII, sesuatu berubah. Aku bertemu “Dia”. Dia yang memotivasiku. Dia juga yang membuat kelas XII SMA-ku yang seharusnya sangat stressful menjadi menyenangkan. Aku bisa menjadi versi terbaikku. Aku mulai bisa sedikit menyayangi dan menghargai diriku sendiri, sedikit lebih bisa terbuka kepada orang lain, menjadi lebih berprestasi daripada sebelumnya, menjadi aku yang hidup.

Hebatnya masa putih abu-abu benar-benar kurasakan saat itu. Aku seperti masuk dalam karakter Galih Rakasiwi (nama depannya kok sama dengan namaku.. hahahaa) yang mencintai Ratna Suminar dalam film Gita Cinta Anak SMA. Aku merasakan energi yang mengalir deras menerobos seluruh urat nadiku. Aku tiba-tiba merasa menjelma menjadi manusia (baca=lelaki) yang istimewa. Merasakan hidup yang lebih hidup dari sebelumnya. Aku merasakan menjadi orang istimewa dan berharga; punya harapan yang harus diperjuangkan. Ini benar-benar aneh bagiku. Kok bisa begitu besar pengaruh si ‘Ratna’  megolah pikir, rasa, dan ragaku. Padahal selama ini, kedua orang tuaku selama ini telah memberiku lebih dari yang kudapatkan dari ‘Ratna’. Mungkin karena memang sudah faseku membutuhkan perhatian, penghargaan dari lawan jenis dan orang lain. Aku anggap itu manusiawi. Aku pun yakin bahwa Tuhan pasti memberikan jalan keluar pada waktu dan cara yang tidak disangka-sangka. Pengalaman baru yang kudapatkan; aku merasa berharga karena dihargai dan menghargai orang lain. Itu karena dia, pemicunya.

Tenang, masih belum selesai kok. Masa-masa kelulusan semakin dekat. Tryout dilakukan hampir setiap saat, entah di sekolah, di bimbingan belajar, ataupun yang diselenggarakan oleh tempat lain. Aku yang saat itu sedang sangat semangat harus kembali jatuh. Aku gagal dalam seleksi nasional mahasiswa perguruan tinggi negeri (SNMPTN). Tentu aku sangat kecewa. “Tapi aku pasti bisa melewatinya karena dia”, begitu pikirku. Namun, dia pergi. Si penopang pergi tentu yang ditopang runtuh. Aku yang sudah jatuh, malah tertimpa tangga, hancur. Aku yang mulai menyayangi dan menghargai diriku karena dia, kembali membenci diriku sendiri. “Kenapa aku begini, kenapa aku begitu, kenapa aku kurang ini, kurang itu?”. Aku yang harusnya sudah berlari mengejar kegagalanku, malah masih meringkuk di pojok ruangan, Si Bodoh, haha.

Pada suatu hari, pemikiran terlintas di kepalaku, “Hey, dude, you should’ve lived for your own sake, not someone else’s”. Aku mulai bangkit, berjalan, berlari, sampai saat ini aku sudah sampai di garis permulaan kedewasaan. Aku mulai belajar menyayangi dan menghargai diriku sendiri. Kali ini, untuk diriku sendiri, bukan orang lain.

Memang sulit, tetapi bukan berarti tak bisa. Saat ini, semua terasa lebih mudah karena aku sudah tahu jalannya. Aku mulai bisa percaya kepada orang lain, bisa terbuka kepada orang lain; bahkan aku sudah berani meminta orang tuaku untuk membaca dan mengoreksi tulisan ini untuk aku yang dulu. Ini adalah hal yang tidak mungkin terjadi sebelumnya. Ya sudah, sekian saja dariku. Rememeber, Love yourself!

 

 

Komentar

  1. Bagus 🔥
    Proud of you mabro😍

    BalasHapus
  2. "Si penopang pergi tentu yang ditopang runtuh." kalimat yang sederhana, tapi juga kalimat kesukaan saya di tulisan ini. Saya tunggu bukunya suatu hari nanti

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Saksi hidup 3 tahun perjalanan SMA-nya. I know all the stories that he can't tell here, but
    let it remain a secret. When reading this, I immediately remembered your story a year ago when we returned from Surabaya on the mini bus HAHAHA

    BalasHapus
  5. Komentar ini telah di hapus oleh penopang

    BalasHapus

  6. Gila, speechless aku baca nya. Semangat, kita bisa jika kita mau berusaha. Kendali berada ditangan kita. I'm proud you so much.

    BalasHapus
  7. Bagus bangett😭
    Semangat teruss yaa..

    BalasHapus
  8. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus

Posting Komentar